Ketika Para Guru Mengajar dengan Cara Lain: Menitipkan Harapan untuk Aceh dan Sumatra

- Penulis

Senin, 5 Januari 2026 - 13:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pagi masih basah oleh sisa hujan Desember, di sudut-sudut sekolah dan ruang guru di Tulungagung, ada amplop-amplop sederhana yang berpindah tangan. Sebagian datang bersama salam lirih, sebagian lain tanpa nama, hanya niat yang diselipkan pelan. Tidak ada sorak, tidak pula panggung. Yang ada hanyalah kesadaran bersama: di tempat lain, jauh di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara, ada sesama yang sedang berjuang bangkit dari luka bencana.

Gerakan itu tumbuh senyap namun berdenyut kuat. Dari Besuki hingga Pagerwojo, dari Boyolangu hingga pusat kota Tulungagung, para guru—orang-orang yang sehari-hari mengajar tentang nilai dan harapan—mengubah pelajaran itu menjadi tindakan nyata. Cabang-cabang Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Tulungagung menyatukan kepedulian dalam bentuk paling konkret: donasi. Jumlahnya bukan angka kecil, tetapi yang lebih besar adalah maknanya. Terkumpul Rp 614.733.000, hasil gotong royong dari banyak tangan dan banyak hati.

Dana itu kemudian bergerak, menyeberangi pulau dan jarak. Sebanyak Rp 608.000.000 disalurkan ke wilayah-wilayah terdampak: Aceh dan Sumatra Barat masing-masing menerima Rp 202 juta, sementara Sibolga, Langkat, dan Tapanuli Selatan mendapat Rp 68 juta per wilayah. Setiap rupiah membawa pesan yang sama: Anda tidak sendirian. Ada guru-guru di selatan Jawa yang ikut memikul duka dan berharap pemulihan segera tiba.

Di balik rekapitulasi rapi dan tabel angka, tersimpan kisah-kisah kecil yang jarang tercatat. Tentang guru yang menyisihkan honor tambahan, tentang cabang yang mengumpulkan donasi dari rapat ke rapat, tentang bendahara yang teliti menghitung hingga rupiah terakhir. Bahkan, sisa donasi sebesar Rp 6.733.000—yang masuk setelah penyaluran tahap utama—menjadi pengingat bahwa kepedulian sering kali datang terus-menerus, tak menunggu waktu yang ideal.

“Terima kasih” dalam laporan resmi mungkin terdengar formal. Namun bagi para penyintas, terima kasih itu menjelma selimut, bahan makanan, dan secercah keyakinan bahwa kehidupan bisa ditata ulang. Bagi para guru, gerakan ini adalah perpanjangan dari tugas mendidik: mengajarkan empati bukan lewat kata, melainkan teladan.

Ketika laporan ditutup dengan doa agar setiap sumbangan mendapat balasan terbaik, doa itu terasa pulang ke tempat yang semestinya. Sebab di tengah dunia yang kerap riuh oleh berita duka, ada kisah tentang manusia yang memilih hadir—diam-diam, bersama-sama—dan percaya bahwa kebaikan, sekecil apa pun, selalu menemukan jalannya.

 

Penulis : Dien Siboyta

Editor : Wahyudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pgritulungagung.or.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Berita ini 67 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 5 Januari 2026 - 13:01 WIB

Ketika Para Guru Mengajar dengan Cara Lain: Menitipkan Harapan untuk Aceh dan Sumatra

Berita Terbaru

Berita dan Peristiwa

15 Ribu Peserta Padati Jalan Sehat HUT ke-80 PGRI Tulungagung

Sabtu, 20 Des 2025 - 23:10 WIB

Pengurus Cabang PGRI Sumbergempol saat diterima Danramil 0807/07 Sumbergempol.

Berita dan Peristiwa

PGRI dan Korwil UPASP Sumbergempol Jalin Sinergi dengan TNI di HUT ke-80

Jumat, 10 Okt 2025 - 08:34 WIB